Komarudin Ibnu Mikam : Ada Kesalahan Fundamental Industri di Bekasi

0
1406

POSKOBERITA.COM, CIKARANG – Budayawan Bekasi, Komarudin Ibnu Mikam mempertanyakan seberapa besar manfaat industrialisasi untuk masyarakat Bekasi yang sudah berjalan selama 30 tahun. Menurut Bang Komar, panggilan akrab Komarudin Ibnu Mikam, ada kesalahan fundamental terkait dibangunnya industri di Kabupaten Bekasi.

Dalam akun facebook-nya yang diunggah, Senin (05/06), Bang Komar menyebutkan, industri di Bekasi hadir karena adanya kebutuhan para pemodal besar untuk mendirikan pabrik, dan bukan kebutuhan warga Bekasi.

“Era industri di Eropa tidak ujug-ujug, tapi diawali dengan era renaisance, era pencerahan. Terjadi dulu temuan-temuan pengetahuan dari mesin-mesin industri, sehingga masyarakatnya juga ikut bertansformasi.” kata budayawan yang juga Tokoh Bekasi Utara ini

Berbeda dengan industrialisasi di Bekasi yang  dibangun tanpa persiapan. “Dari masyarakat Bekasi yang agraris tiba-tiba melompat ke era industri sehingga masyarakat tidak siap. Tingkat pendidikan masyarakatnya masih pas-pasan, tiba-tiba dapat gusuran, jual tanah, banyak uang kemudian masyarakat menjadi konsumtif dengan membeli apapun yang mereka inginkan.” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, industri di Bekasi dibangun tidak berbasis pada kapasitas warga yang diindustrialisasi. “Kalau dasarnya kapasitas masyarakat, maka Lio-Lio (tempat membuat batubata-red)  akan hidup dan semakin modern. Buktinya kan enggak?” tulisnya.

Lebih ekstrim, Bang Komar menyebutkan, industri sebagai bentuk penjajahan. Karena yang dirasakan mayoritas masyarakat Bekasi adalah dampak negatifnya saja dari kehadiran industri, seperti pencemaran air sungai, lahan pertanian yang semakin menyempit dan polusi udara yang mengancam kesehatan.

Komarudin juga menyinggung masalah terjadinya imperialisme budaya. “Ketika sawah, rawa dan hutan digusur digantikan beton perumahan dan industri, sadarkah kita bahwa saat itu sudah terjadi upaya menancapkan penguasaan baru.  Pola kehidupan yang bergerak seperti obat nyamuk, mulai kecil dan membesar. Sawah digusur jadi rumah dan mal. Infrastruktur dibangun untuk orbit mereka. Bahkan lahan milik Pemda pun digusur untuk jembatan ke Perumahan mereka. Pribumi tersisih.” tulisnya.

“Saat jadi sawah, ruang terbuka. Siapa pun bisa nyari duit secara merdeka. Saat jadi cluster orang Kaya. Masuk pun harus menyerahkan KTP. Padahal mereka wara wiri di Kampung kita gak kita mintain KTP.” ujarnya.

Budayawan Bekasi ini juga mengajak semua pihak untuk melakukan evaluasi hadirnya industrialisasi di Bekasi. Bisa jadi akan lebih baik kalau pembangunan industri dan perumahan di daerah ini dihentikan dulu untuk sementara waktu. “Evaluasi, Moratorium industri dan perumahan.” pungkasnya. (red)