Ujaran Non-Demokratis Masih Warnai Pilkada

0
1004

JAKARTA — Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz mengatakan pilkada adalah momentum melakukan evaluasi ‎terhadap kinerja pemerintahan lama dan menyusun konsep perbaikan ke depan secara menyeluruh.

Pilkada, berlaku untuk merawat persatuan. Masyarakat pemilih terlibat pilkada dalam nuansa kedamaian, membuka komunikasi santun dan menerima hasil pilihan dengan ikhlas.

Dalam konteks ini, pilkada tidak hanya mencari kemenangan atau menghindari kekalahan, tetapi meneguhkan persatuan dan keberagamaan melalui perbedaan pilihan.

Pada kenyataannya, s‎ubtansi pilkada belum terbangun penuh. Seringkali yang berlaku justru sebaliknya, pilkada menjadi sarana untuk menolak keberagaman dan mengurangi persatuan.

“Ujaran-ujaran non-demokratis minim kesantunan masih memenuhi ruang publik sehingga adu konsep dan program menjadi terbatas,” kata Masykurudin.

Menurut dia, terlalu mahal apabila menggunakan pilkada hanya untuk mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. (Republika/ilustrasi : kaskus/pb)