DPR RI Serukan Perangi COVID-19 dan Eliminasi Tuberkulosis

0
41
Anggota Komisi IX DPR RI Drg. Putih Sari.

DALAM rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret, Anggota Komisi IX DPR RI Drg. Putih Sari, mengajak dan menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk bersama – sama memerangi COVID-19 dan mengeliminasi penyakit tuberculosis (TB) di Indonesia.

“Butuh kolaborasi multi-sektor untuk mengatasi memerangi COVID-19 dan mengeleminasi TBC. Upaya ini bukan hanya tanggung jawab Tenaga Kesehatan saja, akan tetapi juga tanggung jawab masyarakat sipil dan pemerintah di semua sektor, seperti sektor keuangan, perumahan, tenaga kerja, urusan dalam negeri, pemberdayaan desa, perencanaan pembangunan, transportasi, serta hukum dan hak asasi manusia,” ujar anggota Fraksi Gerindra DPR RI ini.

Ditengah pemerintah sibuk mengatasi bencana COVID-19, Putih Sari mengingatkan agar pemerintah tetap memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan khususnya untuk pengobatan TBC, layanan konsultasi, dan upaya pencegahan TBC tetap dapat berjalan dengan baik.

“Kita memang sedang menghadapi pandemic COVID-19 yang sangat serius, akan tetapi pemerintah juga jangan sampai abai dengan penyakit–penyakit lainnya khususnya TBC yang juga menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian di Indonesia,” ujar anggota DPR RI dari Dapil Jabar VII ini.

Sejauh ini menurut Putih Sari, sebagian masyarakat masih kesulitan dalam mengakses kesediaan obat sehingga alokasi anggaran untuk TB harus ditingkatkan. Sebab tantangan terhadap Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR TB) dan TB laten sangat besar di negeri ini.

“Mencapai eliminasi TBC 2030 tidaklah mudah, apalagi jika muncul penyakit menular baru seperti COVID-19 yang semakin membebani sistem kesehatan kita. Upaya promotif dan preventif menurutnya perlu dilakukan secara sinergis dan mendapat prioritas. Disamping itu, intervensi seperti pelacakan kontak pasien dapat dikembangkan berdasarkan pembelajaran dari penanggulangan TBC,” jelas dia.

Sebagai Penutup, Putih Sari menyoroti pentingnya aspek regulasi penanggulangan TBC di Indonesia. Beliau mendorong agar Perpres mengenai upaya penanggulangan TBC yang melibatkan lintas sector bisa segera ditetapkan sehingga menjadi landasan yang kuat dalam upaya penanggulangan TBC di Indonesia.

Saat ini Indonesia sedang menghadapi beberapa pandemi yang berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, dua diantaranya adalah Pandemi COVID-19 dan TBC. Penyakit TBC telah lama ditetapkan sebagai Pandemi, belum lama ini Badan Kesehatan Dunia atau WHO juga telah menetapkan bahwa Corona Virus Diseases atau COVID-19 sebagai pandemi.

“Status ini ditetapkan menyusul dampak penyakit yang tak hanya pada kesehatan tapi juga ke berbagai sektor. Jumlah pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Data menunjukkan bahwa per hari senin 23 Maret 2020 terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 579 orang, dengan 30 sembuh dan 49 orang meninggal dunia,” kata dia.

Disisi lain, TBC juga masih menjadi penyakit yang mematikan di Indonesia dan juga di dunia. Tuberkulosis pertama ditemukan pada 24 Maret 1882 oleh Robert Koch dan lebih dari 130 tahun setelahnya penyebaran bakteri TBC masih ada di setiap negara, bahkan semakin resisten terhadap antibiotik yang tersedia. Indonesia masih menghadapi pandemi TBC dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya tentu terancam dengan munculnya pandemi COVID-19.

Pada tahun 2018, 10 juta orang di dunia jatuh sakit akibat TBC dan 845.000 orang diantaranya berada di Indonesia. Situasi ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga sebagai negara dengan insiden TBC tertinggi setelah India dan Cina (WHO, 2019). Laporan Tuberkulosis Global WHO 2019 memperkirakan setiap hari lebih dari 2300 orang jatuh sakit akibat TBC. Penyakit menular yang dapat dicegah dan diobati ini juga telah merenggut lebih dari 200 jiwa setiap harinya. (***)