Soleman Katakan Tidak Tau Apa Isi Pembicaraan

0
463

*** Pertemuan Waras Warsito Dengan Henri Lincon

POSKOBERITA.COM, BANDUNG -Persidangan Lanjutan kasus suap perizinan Mega Proyek Meikarta, Jaksa Penuntut KPK memanggil Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Soleman, pada Rabu (6/2/2019) di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Jawa Barat.

Kesaksian Soleman untuk di konfrontir dengan Sekda Jawa Barat. Politisi PDI-P tersebut mengaku dihubungi oleh Hendri Lincon yang selaku Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bekasi, untuk diminta bantuannya menemui Waras Wasisto yang merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat.

Soleman pun, langsung menghubungi Waras hingga terjadi pertemuan antara Soleman, Waras Wasisto dan Hendri Lincon yang terjadi di KM-39 Tol Cipularang. Turut hadir dalam pertemuan itu, Kepala Bidang Penataan Ruang PUPR Pemerintah Kabupaten Bekasi, Neneng Rahmi Nurlaili.

Sambung Soleman, sekitar 2 pekan kemudian terjadi pertemuan kembali di Tol Cipularang KM-72. Kali ini, Iwa Karniwa turut hadir dalam pertemuan tersebut. Namun, Soleman lagi-lagi mengaku tidak tahu isi pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Soleman mengaku bersama Waras tidak mengikuti pertemuan, tetapi hanya menunggu di luar ruangan. Sedangkan yang terlibat dalam pembicaraan yakni, Sekda Jabar Iwa Karniwa, Neneng Rahmi dan Hendri Lincon.

Soleman pun mengungkapkan, ada pertemuan lanjutan di Gedung Sate. Soleman menyebut, pertemuan kembali diikuti Hendri Lincon, Neneng Rahmi dan Iwa Karniwa. Namun lagi-lagi Solaeman mengaku tidak tahu isi pertemuan karena berada di luar ruangan.

Dikatakan Soleman, setelah itu ada kode “TIGA” yang disampaikan Sekda Jabar Iwa Karniwa. Pada saat itu, Solaeman mengaku tidak tahu maksud dari kode itu.

Jaksa pun, membacakan Berkas Acara Pemeriksaan Soleman yang isinya Soleman mengakui kode “TIGA” berarti uang Rp3 miliar. Namun Solaeman mengaku mengetahui maksud kode itu setelah menjalani pemeriksaan di KPK.

Soleman pun tidak tahu menahu tentang uang itu, dia hanya sebagai perantara saja. “Pada saat Neneng Rahmi dan Hendri pulang, Pak Iwa mengatakan ‘Ada titipan tuh nanti buat bikin banner’,” kata Soleman saat bersaksi.

Majelis hakim kemudian mempertanyakan soal pemberian uang itu sebab dalam sidang-sidang sebelumnya selalu disampaikan bila uang itu berkaitan dengan Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Bekasi demi mulusnya proyek Meikarta. Namun, Sulaeman mengaku tidak mengerti.

Sedangkan saat ditanya soal sumber uang, Sulaeman sempat berbelit-belit hingga akhirnya menyebut uang itu berkaitan dengan Meikarta.

Dalam persidangan ini, ada empat terdakwa yang diadili, yaitu Billy Sindoro, Henry Jasmen P Sitohang, Fitradjaja Purnama, dan Taryudi. Keempatnya disebut berasal dari Lippo Group, yang didakwa menyuap Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hassanah Yasin dan jajaran pejabat di Pemkab Bekasi demi mulusnya perizinan proyek Meikarta. (wil/era)