GAM 58 Dukung Presiden Jokowi Bebaskan Abu Bakar Baasyir

0
160

 

JAKARTA, POSKO BERITA- Perrmintaan pembebasan bersyarat atas Abu Bakar Ba’asyir
Ditunda oleh pemerintah Sebab, Ba’asyir tidak dapat memenuhi syarat formil sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih lanjut didetailkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.

Presiden Joko Widodo sebenarnya menyambut baik permohonan Ba’asyir bebas. Sebab dari sisi kemanusiaan, Presiden sangat memperhatikannya dengan sungguh-sungguh kondisi kesehatan Ba’asyir yang kini sudah berusia 81 tahun terus menurun sehingga membutuhkan perawatan yang khusus.

Dengan alasan yang sama Gerakan Anak Menteng 58 (GAM 58) yang dipimpin oleh sdr. Zaky Roby Cahyadi, ST memberikan dukungan terhadap Pernyataan, langkah dan kebijakan presiden jokowi yang telah menyetujui pembebasan terpidana kasus terorisme ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

“Sebagai mantan pengurus GPI dan juga orang tua kami, maka kami akan mendukung setiap upaya pembebasan ustadz Ba’asyir,” ujar Zaky Roby Cahyadi, ST.

“Kami berharap semua pihak mendukung langkah ini, dan tidak membuat dialektika persoalan pembebasan ustadz” Tambahnya

Zaky Roby Cahyadi, ST mantan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) Periode 2007 – 2010, sekarang adalah Kordinator Gerakan Anak Menteng (GAM) yang pada Senin, 6 Ramadhan 1429 H / 8 September 2008 telah membuat Gerakan Pemuda Islam (GPI) Award dengan memberikan penghargaan GPI Award kepada tiga tokoh yang selalu konsisten memperjuangkan amar ma’ruf nahyi mungkar di tanah air. Ketiga tokoh itu yakni, Ulama Islam Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, dan Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra.

Dalam Konfrensi Pers di Sekretariat Jalan Menteng Raya 58 Jakarta, pada Senin, 28 Januari 2019 Gerakan Anak Menteng (GAM) 58 memberikan pernyataan perihal pembebasan Ustad Abu Bakar Ba’asyir bahwa;

1. Orang tua kami sudah menjalani 2/3 masa hukumannya, sudah sepuh berusia 81 tahun, kesehatan makin menurun, dan seorang ulama yang bertanggung jawab terhadap umat serta tidak meninggalkan umatnya, konsisten memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar di tanah air.

2. Segenap kader yang tergabung dalam GAM 58 dengan khittoh perjuangannya selalu samina waatona terhadap Panglima Besar Syariat Islam yang konsisten memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar di Indonesia dibuktikan dengan pemberian GPI Award di tahun 2008.

3. Segenap kader GAM 58 menghimbau dengan sangat kepada pemerintah agar segera memberikan pembebasan kepada guru kami di tahun 2019.

4. Segenap kader GAM 58 akan senantiasa berjuang seoptimal mungkin guna pembebasan ustadz Abu Bakar Ba’asyir di tahun 2019 bersama alim ulama dan umat islam dengan di mudahkan syaratnya.

5. kami segenap kader GAM 58 dengan adagium “Islam Yes, NKRI Yes” bahwa Islam darah kami serta tidak bertentangan dengan Pancasila dan NKRI harga mati untuk kami. kader GAM 58 tetap menjalankan khittoh perjuangan 1945 yaitu melakukan dakwah dan syiar islam di Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.

Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 16 Juni 2011 lalu setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk membiayai tindak pidana terorisme, yaitu membiayai pelatihan militer di Aceh senilai 1,39 miliar rupiah. Pengadilan Tinggi Jakarta pada 7 Juli 2011 meringankan hukumannya menjadi sembilan tahun.

Ba’asyir belum mendapatkan pembebasan bersyarat meskipun sudah memiliki hak itu sejak 23 Desember 2018 lalu. Karena, Ba’asyir menolak pembebasan bersyarat karena salah satu syaratnya adalah mengakui kesalahannya. Ba’asyir kukuh dengan pendiriannya, bahwa ia tidak pernah melakukan tindakan terorisme. (Vin)