“Plengas-Plengos” Pilkades

0
193

Oleh: Maulana Arief Aboy (Direktur Eksekutif IBM, Insan Bekasi Madani Institute)

POSKOBERITA.COM – “Plengas – Plengos”, satu idiom khas Bekasi yang selama perhelatan Pilkades serentak di Kabupaten Bekasi kemarin sangat kental dan familiar di telinga warga, adalah suatu ungkapan dimana Warga, Saudara, Kawan, Tetangga juga Keluarga tidak lagi saling menyapa bila bertemu di jalan, bahkan saling menghindar dan membuang muka.

Bukan tanpa Alasan “Plengas – Plengos” ini terjadi selama Pilkades kemarin, ini lebih kepada persaingan ketat antara calon kades dan pendukungnya yang melibatkan semua elemen masyarakat, gesekan yang keras bahkan diklaim lebih keras dari nuansa Pilpres disinyalir sebagai penyebab utama “Plengas – Plengos” tersebut.

Kini, Pilkades telah berlalu. Tentu saja “Plengas – Plengos” tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Pilkades bukan sekadar kontestasi demokrasi. Pilkades ialah untuk mencari pemimpin desa yang benar-benar sesuai amanah warga desa. Outputnya, untuk mewujudkan desa yang bukan hanya maju, tapi juga damai, tenteram, jauh dari konflik dan disintegrasi sosial.

Maka itu, sikap siap kalah dan siap menang merupakan hal penting yang perlu diterapkan setiap momentum Kontes Demokrasi (Pilkades) dihelat. Umumnya, orang akan siap untuk menang. Akan tetapi, langka sekali orang yang siap menerima kekalahan.

Kenyataan ini yang seringkali menimbulkan konflik sosial (“Plengas – Plengos) berkepanjangan yang dapat merusak kerukunan yang telah terbangun sebelumnya.

Perlu dipahami, sikap fanatik berlebihan dan tidak menerima kekalahan ialah awal dari malapetaka dalam setiap Kontes Demokrasi dihelat. Sikap tidak menerima kekalahan dapat memunculkan sikap “Plengas – Plengos” yang dapat membuat seseorang berani melakukan tindakan yang mengancam kedamaian dan keutuhan masyarakat. Sedangkan bukan itu tujuan dari demokrasi di helat.

Pilkades merupakan agenda demokrasi desa yang meleburkan tujuan bersama dalam satu upaya membangun masyarakat desa yang sejahtera. Oleh karenanya, pemaknaan Pilkades sebagai alat pemersatu sudah sepantasnya melekat pada pemikiran masyarakat Desa. Jangan kita kotori makna suci Pilkades tersebut dengan sentimen berlebihan dan kebencian atas satu pilihan politik sehingga memicu konflik sosial yang mengancam persatuan.

Kalah dan menang dalam Pilkades adalah suatu hal yang biasa. Namun, persatuan dan kesatuan, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara harus tetap dijaga.

Kita khawatir jika setiap Calon dan pendukungnya yang kalah tidak melakukan tindakan ‘ksatria’, maka bisa berbuntut perpecahan warga desa dan “Plengas – Plengos” akan berkepanjangan. ini akan buruk bagi Jalinan tali Silaturahmi kita yang sejatinya lebih penting daripada Pilkades tersebut.

Kita berharap Kepala Desa yang terpilih benar-benar sesuai dengan amanah rakyat. Mampu menyejahterakan dan menjaga kedamaian Desa. Tidak berambisi memperkaya diri serta mengedepankan kepentingan warganya. Demi menyambut hal tersebut, marilah kita rajut kembali tali silaturahmi yang sempat retak karena perbedaan dukungan calon dalam momentum Pilkades.

Ayo kita akhiri “Plengas-Plengos” ! Sebab, tidak ada pemimpin mana pun yang mampu membangun kesejahteraan apabila terdapat perpecahan dalam diri warga yang dipimpinnya.

Wallahu a’lam bish-shawaab..

#salamjungkirbalik