Daeng Muhammad Minta Pemerintah Serius Atasi Anjloknya Rupiah

0
406

POSKOBERITA.COM, JAKARTA – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang nyaris menembus Rp14.000 memicu kekhawatiran banyak pihak. Anggota DPR RI Daeng Muhammad mengatakan menguatnya dolar terhadap rupiah akan dirasakan dampaknya tidak hanya bagi para pengusaha tapi juga untuk kalangan masyarakat umum.

“Kenaikan dolar terhadap rupiah akan berdampak bagi masyarakat. Seperti naiknya harga makanan dan minuman dalam kemasan, termasuk harga daging ayam yang berpotensi naik karena pakan ternaknya sebagian masih impor. Belum lagi harga barang elektronik dan spare part sepeda motor yang juga ikut naik,” kata anggota Fraksi PAN DPR RI ini, Jumat (27/04/2018).

Selain itu, kata Daeng, naiknya harga dolar sudah pasti akan berdampak langsung terhadap industri dalam negeri akibat naiknya harga bahan baku impor dan ongkos angkut barang yang menggunakan kapal asing.

Daeng meminta pemerintah dan otoritas keuangan Indonesia memberikan perhatian serius terhadap melonjaknya harga dolar AS agar tidak berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat.

Dirinya juga tidak sependapat turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar hanya karena faktor eksternal. Seperti disampaikan ekonom yang juga politisi PAN Dradjad Wibowo bahwa surplus perdagangan Indonesia pada periode Januari-Maret 2018 menjadi penyebab yang signifikan atas anjloknya nilai rupiah.

“Ada sebagian kalangan pemerintah dan BI (Bank Indonesia) yang senang memakai alasan ini ketika rupiah melemah. Namun, saat rupiah menguat, langsung diklaim sebagai hasil kinerja pemerintah/BI,” kata dia seperti dikutip Republika.co.id, Selasa (24/4).

Dijelaskannya, memang benar ada pengaruh faktor eksternal, terutama kebijakan the Fed. Namun, hal ini sudah di-factored in oleh pasar sejak Januari-Februari 2018.

“Saya malah melihat jebloknya surplus perdagangan Indonesia pada periode Januari-Maret 2018 sebagai penyebab yang signifikan. Surplus perdagangan Januari-Maret 2017 adalah 4,09 miliar dolar AS, sementara Januari-Maret 2018 hanya 0,28 miliar dolar AS. Anjlok hampir 15 kali lipat,” kata anggota Dewan Kehormatan PAN tersebut.

Menurutnya, ekonomi Indonesia saat ini memang masih stagnan dan lemah. Faktanya, pertumbuhan ekonomi tetap gagal keluar dari “jebakan 5 persen”. Padahal, pembangunan infrastruktur digenjot besar-besaran. (Red)