Diskusi KHB ; Jawara Zaman Now Tak Harus Pintar Silat

0
931

POSKOBERITA.COM, TAMBUN SELATAN – Jawara zaman now tidak harus pintar silat, siapapun yang punya keahlian yang bermanfaat untuk orang banyak maka pantas dia disebut  jawara.

Demikian disampaikan Jawara Bekasi, Damin Sada saat menjadi pembicara pada Diskusi Peran dan Kiprah Jawara, Dahulu dan Masa Kini yang digelar di Gedung Juang Tambun, Jumat (23/03/2018) malam, yang diadakan oleh Komunitas Historika Bekasi (KHB).

“Dulu di Bekasi, ada 3 jenis jawara. Yang pertama, jawara yang membela masyarakat dan ulama, yang kedua, jawara yang bekerja sebagai tukang pukul tuan tanah dan yang ketiga adalah jawara yang kerjanya hanya rese, meresahkan siapa saja,” ujar Damin.

Dosen Unisma yang juga pemerhati sejarah Bekasi, Abdul Khair, yang juga hadir sebagai pembicara menyampaikan, tradisi jawara sebenarnya lebih dekat dengan tradisi hidup masyarakat Banten.

“Istilah Jawara di Betawi lebih kental dengan sebutan Jagoan, seperti Pitung, Sabeni dan Entong Tolo yang melegenda. Tokoh Jagoan biasanya seorang guru silat sekaligus guru ngaji, yang menjunjung tinggi ahlak dan tampil sebagai pendamai,” kata Bang Khair.

Abdul Khair juga mengapresiasi semakin banyaknya komunitas anak muda di Bekasi yang mau memakai baju pangsi betawi sebagai identitas diri. Hal ini menurutnya sebagai sebuah fenomena yang positif.

Sementara itu pemerhati sejarah Bekasi, Benny Rusmawan yang tampil sebagai pemateri ketiga, mengatakan, kiprah dan perjuangan para jawara di wilayah Bekasi sangat besar dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

“Mereka banyak bergabung dengan tentara kita dalam menghadapi pasukan Belanda. Maka tak heran pada jaman revolusi fisik, daerah Bekasi paling susah ditaklukkan Belanda karena di setiap kampung ada perlawanan dari para jawara,” jelas Benny.

Koordinator acara Komunitas Historika Bekasi (KHB), R. Agah Handoko mengaku cukup puas melihat antusiasme masyarakat Bekasi yang selalu  memadati diskusi bulanan KHB di Gedung Juang 45 Tambun.

“Kami berharap diskusi KHB tentang ‘kebekasian’ ini bisa memberikan pencerahan kepada para pemerhati sejarah  dan dapat terus berlanjut dengan menghadirkan tema-tema yang menarik di waktu yang akan datang,” ucap Agah. (Ds)