Ketua PBNU Said Aqil Siradj Diusulkan Jadi Kandidat Presiden RI

0
809
#

POSKOBERITA.COM, JAKARTA – Ketua umum ormas Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA dimunculkan sebagai sosok calon Presiden Republik Indonesia periode tahun 2019-2024.

Sinyal warga Nahdiyin untuk menjadikan Said Aqil Siradj sebagai Presiden Republik Indonesia sudah mulai diberikan saat digelarnya Pagelaran Wayang Kulit bersama Dalang Ki Manteb Soedharsono dalam rangka Tasyakuran Hari Pahlawan, di pelataran gedung Konvensi areal TMPN Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (25 November 2017) malam. Acara ini sekaligus sosialisasi pencalonan Khofifah Indar Parawansa sebagai calon Gubernur Jawa Timur.

“Pak Kyai Said Aqil ini, masuk kriteria untuk bakal calon Presiden Republik Indonesia yang berasal dari luar partai berdasarkan usulan warga nahdiyin,” ungkap pendiri Komando Pemuda Pelopor Nahdlatul Ummat (KPPNU), Budi Kasan Besari, SH.,CLA kepada wartawan.

Ketua tim pemenangan Khofifah sebagai Gubernur Jatim itu mengatakan, Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA menjadi salah satu nama di luar kader organisasi partai politik yang diusulkan menjadi Calon Presiden Republik Indonesia pada Pilpres 2019.

“Pak Kyai Said Aqil salah satu figure yang akan dimunculkan oleh warga nahdiyin sebagai calon Presiden Republik Indonesia tahun 2019,” ucapnya.

Diakui cucu pendiri Pondok Pesantren Gerbang Tinatar ini bahwa Said Aqil Siradj dipandang sebagai sosok yang paling tepat menjadi pemimpin Indonesia. Kontribusi dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diakui masyarakat nasional maupun internasional.

“Kontribusi beliau (Kyai Said Aqil) terhadap perdamaian dunia, khususnya di Timur Tengah telah menunjukan bukti kepeduliannya terhadap seluruh ummat manusia,” ¬†terang dia.

Begitupun peran aktifnya dalam organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, menginspirasi kebangkitan ulama untuk terlibat aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.

Budi Kasan Besari mengatakan, pemimpin agama harus berperan dalam memajukan negaranya dan membangkitkan jiwa nasionalisme yang berwawasan kebangsaan. Nasionalisme yang dimaksud ialah upaya seluruh warga untuk bersama-sama mencintai dan membangun negaranya tanpa menanggalkan identitas suku, bangsa dan keyakinannya.

“Nasionalisme pemimpin agama itu tidak sama di setiap negeri, misalnya nasionalisme di Indonesia dengan di Arab itu berbeda. Kalau di Indonesia, ulama itu ya ahli agama dan nasionalis, sedangkan di Arab, mereka mungkin ahli agama, tetapi jiwa nasionalisnya belum tentu ada,” terangnya.

Ulama Indonesia, lanjutnya, meskipun ia adalah kyai di kampung, tetapi perannya dalam menciptakan kehidupan damai dan memberi teladan baik kepada masyarakat terbukti mewujudkan kehidupan yang aman, damai dan tenteram.

“Ketika terjadi huru-hara, pemberontakan politik, atau kerusuhan lainnya, posisi ulama harus menjadi garda terdepan dalam mempersatukan dan merekonsiliasi masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini,” ucapnya.

Peran tersebut telah ditunjukkan Said Aqil Siradj dalam kepemimpinannya sebagai ketua Umum PBNU anti radikalisme, makar atau tindakan anti-NKRI lainnya.

Budi Kasan Basari menambahkan bahwa kaum nahdiyin secara umum telah didoktrin menjadi Ummatan Wasathan, yaitu umat yang berada di tengah tengah.

“Sebagai ummatan wasathon, warga nahdiyin harus mewarnai kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara,” tegasnya. (red)

#