Mama Sempur, Ulama Tanah Pasundan

0
153
#

POSKOBERITA.COM, PURWAKARTA – Syekh Tubagus Ahmad Bakri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Sempur adalah ulama dari tanah Pasundan.

Mama merupakan istilah Bahasa Sunda yang berasal dari kata Rama, yang berarti Bapak. Di kalangan masyarakat Jawa Barat kata Mama biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kiai sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kiai.

Sementara Sempur adalah sebuah Desa yang berada di Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat.

Mama Sempur merupakan putra pertama dari pasangan Syekh Tubagus Sayida bin Tubagus Arsyad al-Bantani dan Umi.

Keluarga Syekh Tubagus Ahmad Bakri adalah keluarga yang taat beragama, ayahnya merupakan salah satu ulama kharismatik sehingga pendidikan agama Syekh Tubagus Ahmad Bakri di usia dini diperoleh dari ayahnya.

Adapun Ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Syekh Tubagus Ahmad Bakri meliputi Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Hadits dan Tafsir.

Menurut salah seorang cucunya, setelah ilmu dasar agama dianggap cukup, Mama Sempur memutuskan untuk menimba ilmu ke pesantren yang ada di Jawa dan Madura.

Sebelum berangkat, Syekh Tubagus Sayida berpesan kepada Ahmad Bakri agar jangan berangkat ke Banten, apalagi menelusuri silsilahnya, ia baru diperbolehkan melakukan hal tersebut ketika masa studinya di pesantren selesai.

Beberapa ulama yang pernah ia timba ilmunya adalah Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya-Betawi, Syekh Soleh Darat bin Umar -Semarang, Syekh Ma’sum bin Ali, Syekh Soleh – Cirebon, Syekh Syaubari, Syekh Ma’sum bin Salim – Semarang, Raden Haji Muhammad Roji Ghoyam -Tasikmalaya, Raden Haji Muhammad Mukhtar – Bogor, Syaikhona Kholil al-Bangkalani – Madura, bahkan di Syekh Kholil inilah dia mulai futuh (terbuka pemikirannya) terhadap ilmu pengetahuan agama Islam.

Pengembaraan di dunia intelektual tidak membuat Mama Sempur merasa puas. Untuk itu akhirnya dia memutuskan untuk berangkat menuntut ilmu ke Mekkah. Di sana ia belajar kepada Syekh Nawawi al-Bantani dan Ulama-ulama Nusantara lainnya.

Setelah dianggap cukup dan berniat menyebarkan Agama Islam, ia kemudian pulang ke Purwakarta dan mendirikan pesantren di sana.

Pada tahun 1911 Masehi, Syekh Tubagus Ahmad Bakri mendirikan Pesantren di daerah Sempur dengan nama Pesantren As-Salafiyyah. Di pesantren yang didirikannya inilah kemudian ia banyak menuangkan pemikirannya dalam berbagai kitab yang ditulis.

Syekh Tubagus Ahmad Bakri mengabdikan hidupnya hanya untuk mengaji atau thalab ilmu, hingga thalabilmu inilah yang menjadi jalannya untuk mendekatkan diri kepada Allah (tarekat).

Syekh Tubagus Ahmad Bakri merupakan ulama yang cukup produkif dalam menulis kitab, dari tangannya telah lahir lebih dari 50 judul kitab yang berserakan di berbagai tempat.

Sebagaimana umumnya Ulama Nusantara, kitab-kitab karya Mama Sempur ini ditulis menggunakan aksara pegon.

Beberapa santri Syekh Tubagus Ahmad Bakri yang menjadi ulama terkemuka di antaranya sebagai berikut :

Syekh Muhammad Dimyathi (Abuya Cidahu) – Cadasari, Pandeglang.

Syekh Sanja (Abuya Kadukaweng) -Kaduhejo, Pandeglang.

Syekh Ahmad Thabroni (Mama Rangdumulya) – Pedes, Karawang.

Syekh Ma’mun Nawawi (Mama Cibogo) – Cibarusah, Bekasi. Selain sebagai muridnya, KH. Ma’mun Nawawi juga sebagai menantu Mama Sempur.

Syekh Muhammad Syafi’i (Mama Cijerah) – Bandung Kulon, Bandung.

Syekh Ahmad Syuja’i (Mama Cijengkol) – Plered, Purwakarta.

Syekh ‘Izzuddin (Mama Cipulus) -Wanayasa, Purwakarta.

Syekh Abdullah – Plered, Purwakarta.

Syekh Ahmad Bushairi (Mama Sukamerta) – Rawamerta, Karawang.

Syekh Muhammad Thoha (Mama Sindangsari) – Paseh Bandung. (***)

 

Source : Wikipedia // Foto (ilustrasi) : Gunung Parang blogspot

 

#